Share

Timnas dan Jokowi

Senin, 20 Oktober 2014

Judul  tulisan saya kali  ini memang sengaja dibuat untuk menarik minat pembaca agar mau membaca tulisan singkat saya ini. Pertanyaan pasti timbul sesaat setelah membaca judul tulisan saya. Apaan sih hubungan timnas sama presiden baru kita Joko Widodo? Lha wong mimpin negara aja belum, berarti Jokowi sama timnas itu gak ada hubungannya. Yah, memang tidak ada hubungan sama sekali antara Jokowi dan timnas sepakbola Indonesia, hanya beberapa kali Jokowi bersentuhan dengan sepakbola, itu pun saat beliau bermain futsal bersama rekan sekerjanya. Jokowi juga bukan politikus yang doyan memainkan peran di dunia sepakbola layaknya Aburizal Bakrie dan kawan-kawannya. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada ini juga bukan orang yang paham betul dengan sepakbola.

Saya mencoba menarik persamaan (bukan korelasi, karena korelasi dalam KBBI memiliki arti hubungan timbal balik) antara Presiden ketujuh Republik Indonesia ini dengan tim nasional Indonesia khusunya tim yang pamornya sedang naik walau mengalami kegagalan, timnas U-19. Saat pertama kali dikenal masyarakat, presiden kita saat itu masih menjabat sebagai walikota Surakarta (lebih terkenal dengan nama Solo). Gaya dan metode memimpin beliau yang lain daripada yang lain membuat informasi dan berita tentang beliau sangat mudah didapatkan. Gaya yang dikenal dengan nama blusukan ini mendapat tempat sendiri di masyarakat. Memang tidak semua masyarakat menyambut positif gaya tersebut, beberapa orang berujar gaya tersebut hanyalah pencitraan semata. Ya, tapi sebagian besar masyarakat menyambut positif gaya kepemimpinan tersebut. Hingga cerita berlanjut, beliau mencalonkan diri menjadi gubernur DKI Jakarta dan memenangkan pemilu kepala daerah Provinsi DKI Jakarta. Cerita tersebut mirip dengan cerita yang dimiliki timnas U-19. Cara yang diterapkan pelatih Indra Sjafrie dalam mencari pemain adalah dengan cara blusukan yang akrab dengan Jokowi. Indra mencari pemain dari pelosok tanah air untuk diikutsertakan pada ajang HKFA Cup saat itu.

Persamaan yang paling kental adalah ekspektasi yang terlampau besar kepada kedua obyek yang saya sajikan. Timnas U-19 dalam beberpa bulan terakhir memang dituntut untuk bisa menghadapi Piala Asia dan lolos semifinal yang berarti meloloskan Indonesia ke Piala Dunia U-20. Jokowi dalam kemenangannya di pilpres 9 Juli 2014 memang sudah menanggung banyak tuntutan untuk memperbaiki negeri ini. Tuntutan dari segala sektor pun bermunculan, seakan beliau-lah “Juruselamat” buat negeri yang kita cintai ini. Persis ceritanya dengan pemain timnas U-19 yang baru lulus SMA tahun ini, begitu diharapkan untuk bisa menyegarkan dahaga prestasi sepakbola dan terus dielu-elukan seakan timnas U-19 ini adalah generasi emas yang belum tentu lahir lagi di Indonesia untuk waktu seribu tahun ke depan.

Ketakutan saya jelas tergambar dari kegagalan timnas U-19. Berbagai macam pujian yang mereka terima malah membuat timnas-U19 tampil tidak seperti yang diharapkan. Sementara untuk  Jokowi, dalam acara Mata Najwa, mbah Sudjiwo Tedjo berucap, “Pemimpin yang di-nabi-kan dapat mematikan nalar”. Puluhan ribu (bahkan ratusan ribu) warga Indonesia yang tumpah ruah di Jakarta untuk merayakan pengangkatan Jokowi menggambarkan Jokowi begitu di-nabi-kan. Okelah, tidak salah bagi seseorang yang me-nabi-kan Jokowi, namun saya harap Jokowi tidak memiliki jalan cerita yang sama dengan timnas U-19. Mungkin tulisan ini juga merupakan kesalahan saya, menyamakan bocah-bocah yang baru lulus SMA dengan seorang yang memang sudah berpengalaman.
Sekian tulisan singkat dari saya, selamat memimpin Pak Jokowi! Saya mendukungmu selalu!

0 komentar: